Illusion of Control

saat kita merasa bisa mengatur kejadian yang sebenarnya acak

Illusion of Control
I

Mari kita jujur pada diri sendiri sejenak. Pernahkah kita memencet tombol lift berkali-kali dengan harapan pintunya akan menutup lebih cepat? Atau mungkin, saat menonton tim sepak bola kebanggaan, kita sengaja memakai kaus tertentu dan duduk di posisi yang sama persis karena merasa kalau kita pindah, tim kita akan kebobolan?

Saya jujur pernah melakukannya. Rasanya sangat masuk akal di momen itu.

Secara logika dasar, kita tahu bahwa menekan tombol lift berkali-kali tidak mengubah aliran listrik di dalam mesinnya. Kita juga tahu bahwa kaus lusuh yang kita pakai di ruang tamu tidak punya hubungan kuantum dengan pemain bola di stadion yang jaraknya ribuan kilometer. Namun, ada dorongan kuat di dalam diri kita yang mengatakan: tindakanku ini berdampak. Kita seolah punya tombol rahasia untuk mengatur semesta.

II

Fenomena unik ini bukan sekadar kebiasaan lucu-lucuan. Ini adalah celah bawaan dari pabrik otak kita. Untuk memahaminya, kita harus mundur sebentar ke tahun 1975.

Seorang psikolog brilian dari Harvard bernama Ellen Langer melakukan sebuah eksperimen yang sangat sederhana tapi mengubah sejarah psikologi. Dia pergi ke sebuah area perkantoran dan menjual tiket lotre seharga satu dolar kepada para pegawai di sana.

Aturannya begini. Separuh pegawai dibiarkan memilih sendiri nomor lotre mereka. Separuh sisanya tidak diberikan pilihan, mereka hanya menerima tiket bernomor acak dari sang peneliti. Hari berganti, dan sesaat sebelum pengundian lotre dilakukan, Langer kembali menemui mereka. Ia berpura-pura bahwa ada orang lain yang ingin membeli tiket mereka. Ia lalu bertanya: "Berapa harga yang kalian minta jika tiket ini saya beli kembali?"

Di sinilah hal yang aneh mulai terjadi.

III

Secara matematis, peluang menang dari setiap lembar tiket lotre itu sama persis. Tidak peduli apakah nomornya dipilih sendiri atau diberikan secara acak. Logikanya, harga jual kembalinya pasti tidak akan jauh berbeda, bukan?

Kenyataannya sangat mengejutkan. Kelompok pegawai yang menerima tiket acak rata-rata mau menjual tiket mereka seharga 1,96 dolar. Masuk akal. Namun, kelompok pegawai yang memilih sendiri nomor lotrenya menolak keras. Mereka rata-rata baru mau melepas tiket tersebut di harga 8,16 dolar! Empat kali lipat lebih mahal.

Apa yang sebenarnya terjadi di sini?

Mengapa otak manusia yang berevolusi jutaan tahun tiba-tiba mengabaikan matematika dasar? Mengapa tindakan sepele seperti "memilih nomor" tiba-tiba menciptakan ilusi magis bahwa tiket tersebut memiliki peluang menang yang lebih besar? Rahasia apa yang disembunyikan oleh sistem saraf kita, sampai-sampai kita merasa sedang memegang kendali di atas sebuah mobil yang sebenarnya melaju tanpa supir?

IV

Ellen Langer menamai fenomena ini sebagai Illusion of Control, atau ilusi kendali. Dan di balik ilusi ini, ada penjelasan hard science yang luar biasa menarik tentang bagaimana otak kita dirakit.

Secara evolusioner, otak manusia adalah mesin penebak masa depan. Tugas utamanya hanya satu: memastikan kita tetap hidup. Bagi otak kita, ketidakpastian adalah ancaman mematikan. Di zaman purba, jika kita tidak bisa menebak apakah suara gemerisik di semak-semak itu adalah angin atau harimau purba pelahap daging, kita mati.

Ketika kita dihadapkan pada situasi yang sepenuhnya acak dan tidak bisa diprediksi, bagian otak kita yang bernama amygdala (pusat rasa takut) akan membunyikan alarm kepanikan. Nah, untuk meredakan kepanikan saraf ini, prefrontal cortex kita yang bertugas berpikir logis terpaksa harus bekerja sama dengan sistem imajinasi. Otak kita pun menciptakan pola palsu. Istilah neurologisnya adalah apophenia, yaitu kecenderungan melihat hubungan dari hal-hal yang sebenarnya acak.

Saat kita meniup dadu dan kebetulan angka enam yang keluar, otak kita merilis dopamine. Zat kimia ini memberikan sensasi kepuasan. Otak kita langsung mencatat: "Aha! Meniup dadu sama dengan kemenangan." Kita merasa memegang kendali untuk mengusir rasa cemas akibat ketidakpastian semesta. Kita memanipulasi diri sendiri agar merasa aman.

V

Mendengar fakta ini, mungkin kita jadi merasa sedikit bodoh. Tapi percayalah, teman-teman, kita sama sekali tidak bodoh. Ilusi kendali ini justru adalah mekanisme pertahanan psikologis yang sangat indah.

Bayangkan jika setiap detik kita sepenuhnya sadar betapa rentannya hidup ini. Betapa banyaknya hal di luar kendali kita. Mulai dari cuaca, kemacetan, penyakit, hingga perilaku orang lain. Jika kita tidak memiliki secuil pun ilusi kendali, kita mungkin tidak akan pernah punya keberanian untuk beranjak dari tempat tidur setiap pagi. Kita akan lumpuh oleh kecemasan klinis.

Ilusi ini menjadi berbahaya hanya jika kita tidak menyadarinya. Misalnya, saat kita merasa sangat yakin bisa menebak pergerakan pasar saham yang acak, lalu mempertaruhkan seluruh tabungan di sana. Atau saat kita kecanduan judi karena merasa sudah menemukan "pola kemenangan". Di situlah nalar kritis kita harus mengambil alih kemudi.

Pada akhirnya, hidup memang seperti lemparan dadu. Kita tidak bisa mengatur angka berapa yang akan keluar. Kita hanya bisa mengatur bagaimana cara kita merespons angka tersebut. Tapi tentu saja, tidak ada salahnya jika kita tetap memakai kaus bola keberuntungan kita saat akhir pekan nanti. Setidaknya, itu membuat hati kita senang, dan itu adalah sesuatu yang benar-benar bisa kita kendalikan.